1. NAMA DAN NASABNYA
Kyai Haji Raden Asnawi itulah nama yang
dipergunakan sesudah beliau menunaikan ibadah Haji yang ketiga kalinya sehingga
wafat. Adapun nama sebelum menunaikan ibadah Haji ialah : Raden Ahmad Syamsi,
kemudian sesudah beliau menunaikan ibadah Haji yang pertama berganti nama
dengan nama Raden Haji Ilyas dan nama
inilah yang terkenal di negeri Mekah
Saudi Arabia di samping narna yang terakhir, yaitu K.H.R. Asnawi.
KHR Asnawi adalah putra
pertama dari H. Abdullah Husnin
seorang pedagang konpeksi tergolong besar di Kudus pada waktu itu, sedang
ibunya bernama R. Sarbinah. KHR Asnawi dilahirkan di kampung Damaran Kota Kudus
pada tahun 1281 H (1861 M), beliau termasuk keturunan dari Sunan Kudus (Sayyid
Ja'far Sodiq) keturunan yang ke XIV dan keturunan ke V dari Kyai Haji Mutamakin
seorang Wali yang keramat di desa Kajen Margoyoso Kabupaten Pati yang hidup
pada zaman Sultan Agung Mataram.
2. MASA MUDANYA.
Sejak kecilnya beliau diasuh oleh orang
tuanya sendiri, terutama dalam mengaji Al Qur'an. Setelah berumur 15 tahun,
beliau diajak oleh orang tuanya ke Tulungagung Jawa Timur untuk mengaji dan
dipelajari pula berdagang; Pagi hari berdagang, sore dan malam hari mengaji di
Pondok Pesantren Mangunsari Tulungagung.
Pada waktu beliau bermukim pernah bertukar
pikiran dengan salah seorang Ulama besar, Mufti Mekkah bernama Syekh Ahmad
Khatib Minan Kabau tentang beberapa masalah keagamaan. Pembahasan ini dilakukan
secara tertulis dari awal masalah hingga terakhir, meskipun tidak memperoleh
kesepakatan pendapat antara keduanya. Karena tidak puas, beliau bermaksud ingin
memperoleh fatwa dari seorang Mufti di Mesir, maka catatan-catatan beliau dan
Syekh Ahmad Khatib tersebut dikirim ke
alamat Sayid Husain Bek seorang Mufti di Mesir. Melihat tulisan-tulisan dan
jawaban-jawaban beliau terhadap tulisan-tulisan Syekh Ahmad Khatib itu,
tertariklah hati Sayid Husain Bek untuk berkenalan dengan beliau. Karena belum
kenal, maka Mufti Mesir itu minta bantuan Syekh Hamid Manan untuk diperkenalkan
dengan KHR Asnawi Kudus. Sesudah Shalat Jum'ah datanglah Sayid Husain Bek ke
rumah Syekh Hamid Manan dan beliaupun yang melayani mengeluarkan minuman.
Selang bercakap-cakap bertanyalah tamu itu : FIN ASNAWI? (Di mana Asnawi?)
Asnawi? HADZA HUWA (inilah dia) sambil menunjuk beliau yang sedang duduk di
pojok sambil mendengarkan percakapan tamu dengan tuan rumah. Setelah
ditunjukkan, Mufti itu segera berdiri dan mendekat beliau, seraya membuka
kopyah dan diciumlah kepala beliau sambil berkenalan. Kata Mufti Sayid Husain
Bek kepada Syekh Hamid Manan: Sungguh salah sangka saya setelah berkenalan dengan ASNAWI. Saya mengira tidaklah
demikian keadaan jasmaniyahnya.
Padą tahun 1917 beliau meninjau tanah
airnya dan sanak-sanak familinya yang ada di Kudus, šerta mengadakan hubungan
dengan kawan-kawan beliau antara lain
Bapak Sema'un, H. Agus Salim HOS
Cokro aminoto dan lain-lain dari tokoh-tokoh S.I. Jadi sebenarnya beliau adalah
seorang pedagang, tetapi beliau sangat tertarik menjadi orang yang alim dan
faham tentang ilmu agama. Hal ini diketahui oleh orang tuanya dalam
pergaulannya dengan teman-temannya yang selalu suka ke langgar,
pondok-pesantren, dan masjid di Tulungagung, tidurpun lebih suka di pondok
pesantren dengan kawan-kawannya dari pada di rumah orang tuanya sendiri di
Tulungagung. Melihat yang demikian itū, maka orang tuanya memerintahkan agar
beliau mondok saja untuk mengaji dan memperdalam ilmu Agama Islam.
Diceritakan sebelum menunaikan ibadah Haji,
beliau pernah bertapa di gunung Putiayam daerah Kabupaten Pati untuk mencari
kerajaan Jin dan waktu itu beliau berusia '20 tahun. Tetapi keinginanya itu
gagal lantaran ditemui oleh orang tua disaat mencari tempat kerajaan jin. Orang
tua tersebut memberi nasehat kepada beliau agar tidak meneruskan niatnya, sebab
dikhawatirkan kalau-kalau tidak dapat pulang. Akhirnya beliau dengan seorang
kawannya kembali ke tempat bertapa di sebuah gua. Dan menjelang Maghrib datang
seekor macan yang terus duduk di pintu gua itu sampai semalam suntut. Dengan
penuh tawakkal kepada Allah AWT, dihadapi binatang buas itu dan akhirnya tanpa
mengganggu apa-apa, pergilah binatang tersebut dan selamatlah beliau dan
kawannya yang menyertainya.
3. DI ANTARA GURU-GURUNYA
Sesudah diasuh dan dididik oleh orang
tuanya, kemudian beliau mengaji di Pondok Pesantren Tulungagung berguru dengan
Kyai H. Irsyad Naib Mayong Jepara
sebelum pergi Haji.
Dan setelah pergi haji, sėlama di Mekah
beliau berguru dengan Kyai H. Saleh Darat Semarang, Kyai H. Mahfudz Termas dan
Sayid Umar Shatha.
4. MENUNAIKAN IBADAH HAJI
Sewaktu umur 25 tahun beliau menunaikan
ibadah Haji yang pertama kali dan sepulangnya dari ibadah Haji ini beliau mulai
mengajar dan melakukan tabligh Agama. Diantaranya dilaksanakan pada setiap hari
Jum'ah Pahing sesudah Shalat Jum'ah beliau mengajar Ilmu Tauhid di Masjid Muria
(Masjid Sunan Muria) yang jaraknya dari kota Kudus 18-km dan dilakukan dengan
jalan kaki.
Beliau suka berkeliling di masjid-masjid
sekitar kota. Dan Kira-kira umur 30 tahun beliau diajak oleh ayahnya untuk
pergi Haji yang kedua kalinya dengan niat untuk bermukim di tanah suci. Di
saat-saat melakukan ibadah Haji, ayahnya pulang ke Rahmatullah, meskipun
demikian niat bermukim beliau tetap jalan selama + 20 tahun. Selama itu beliau
juga pernah pulang ke Kudus beberapa kali untuk meninjau ibunya beserta dengan
adik beliau bernama H. Dimyati yang menetap di Kudus. Dan Ibunya wafat di Kudus
setelah beliau kembali ke tanah suci untuk meneruskan cita-citanya.
5. MUKIM DI TANAH SUCI MEKAH
Sebelum benar-benar bermukim di Makkah,
mula-mula beliau bertempat di rumah Syekh
Hamid Manan Kudus, kemudian setelah menikah dengan Ibu Nyai Hajjah
Hamdanah (janda Almaghfurlah Kyai Nawawi Banten), beliau pindah tempat di
kampung Syamiyah Mekah dengan dikaruniai 9 orang anak tetapi yang hidup sampai
tua hanya 3 orang yaitu :
- a. H. Zuhri.
- b. H. Azizah istri KH Saleh Tayu dan
- c. Alawiyah istri R. Maskub Kudus.
Selama bermukim di tanah Suci, di samping
menunaikan tugas kewajiban sebagai kepala rumah tangga, beliau masih mengambil
kesempatan untuk belajar dan memperdalam ilmu Agama Islam dengan para Ulama
besar baik dari bangsa Indonesia (Jawa) maupun bangsa Arab, baik di masjidil
Haram maupun di rumah pondokannya, di antara yang ikut mengaji antara lain :
K.H. Abdul Wahab Hasbullah Jombang, K.H. Bisri Sansuri Jombang, dan K.H. Dahlan
Pekalongan.
Selain belajar dan mengajar ilmu Agama
Islam, beliau turut aktif mengurusi amanah yang diembannya sebagai seorang
Komisaris S.I. (Syarikat Islam) di Mekah
bersama dengan kawan-kawannya yang lain.
Berangkatlah beliau sendiri, sedangkan anak
istri ditinggal di makkah, sesampainya di kudus beliau bersama dengan
kawan-kawannya mendirikan sebuah madrasah yang diberi nama MADRASAH QUDSIYYAH.
Dan tidak lama kemudian , diadakan pembangunan perluasan masjid menara kudus
yang dilakukan secara gotong royong, dikala malam para santri bersama-sama
mengambil batu dan pasir dari kali gelis untuk dikerjakan pada siang harinya.
Dan ditengah tengah melakukan
pembangunannya itu, terjadi suatu peristiwa HURU–HARA KUDUS, dimana beliau
dengan kawan-kawannya terpaksa harus menghadapi penjajah yang menghina agama
islam. Itulah sebabnya terjadi kegagalan beliau saat mau kembali ketanah suci,
sedangkan anak dan istri masih di makkah
6. HURU HARA KUDUS
Ditengah-tengah umat islam mengadakan
gotong-royong untuk membangun masjid, orang-orang cina mengadakan pawai yang
melewati muka masjid menara. Ulama-ulama dan pemimpain-pemimpin islam lalu
mengirimi surat kepada pimpinan golongan Cina (Letnan Cina) agar tidak
menjalankan pawainya dijalan melewati masjid menara, mengingat banyak umat
islam yang melakukan pengambilan batu-pasir pada malam hari.
Permintaan itu tidak digubris, bahkan
mereka bumbui dengan acara yang seolah menghina umat islam dengan mengisi pawai
mereka berupa adegan dua orang cina yang memakai pakaian haji dengan merangkul
seorang wanita yang berpakaian menggambarkan sebagai wanita nakal, orang awam
menamakan CENGGE.
Pawai cina yang melewati muka masjid menara
menuju keselatan kemudian berpapasan dengan santri-santri yang sedang bekerja
bakti mengambil pasir dan batu dengan kendaraan gerobak dorong (songkro),
kedua-duanya tidak ada yang mau mundur, akhirnya seorang santri yang menarik
songkro itu dipukul oleh orang cina.
Dengan adanya adanya insiden ini, ditambah
adanya CENGGE yang menusuk perasaan umat Islam dan para Ulama, maka terjadilah
pertikaian antara para peserta pawai orang-orang Cina dengan orang-orang Islam
yang sedang kerja bakti mengambil pasir dan batu.
Sekalipun pertikaian ini dapat dihentikan
dan diadakan perdamaian, namun pihak orang-orang Cina belum mau menunjukkan
sikap damai, bahkan masih sering melontarkan ejekan-ejekan terhadap orang Islam
yang tengah mengambil pasir dan batu sepanjang jalan yang dilalui dari Kaligelis sampai ke Masjid Menara Kudus.
Karena itulah santri-santri mengadakan perlawanan terhadap penghinaan
orang-orang Cina. Dengan dalih mengadakan kerusakan dan perampasan, maka oleh
pemerintah penjajah para Ulama ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Beliau
K.H.R. Asnawi yang dituduh sebagai salah satu penggerak; dijatuhi hukuman
selama 3 tahun, mula-mula dipenjara di Kudus, kemudian pindah di penjara
Semarang bersama-sama dengan KH Ahmad Kamai Damaran, KH Nurhadi dan KH Mufid
Sunggingan dan lain-lain.
7. SELAMA DALAM PENJARA
Pada saat-saat beliau di Penjara Kudus,
sang istri (Nyai Hj. Hamdanah) beserta
dengan 3 putra putriya datang di Kudus dari Mekah. Menurut cerita beliau,
selama berada di penjara Kudus, setiap malam Jum‘ah selalu diadakan berzanjenan
(membaca kitab barzanji) bersama-sama dengan penghuni penjara dan selalu
mengadakan Shalat Jamaah lima waktu. Di samping itu, di dalam penjara beliau
juga sempat menterjemahkan kitab Ajrumiyah (Nahwu) ke dalam bahasa Jawa (sayang
karangan ini tidak dicetak dan disiarkan).
Setelah beliau pindah di penjara Semarang,
suatu keanehan terjadi pada sikap Kepala Penjara Semarang yang menaruh suimpati
dan rasa kasihan kepada beliau, sehingga sering sekali mendapat jatah istimewa
berupa roti dan susu dari Kepal Penjara tersebut. Di samping itu juga diberi
kesempatan untuk mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam di dalam penjara
bersama-sama dengan Ulama-ulama yang lain.
8. SESUDAH KELUAR DARI PENJARA
Sebagai seorang yang memiliki jiwa
perjuangan, setelah keluar dari penjara, beliau terus terjun di tengah-tėngah
masyarakat untuk menunaikan tugas kewajibart sebagai seorang pemimpin
masyarakat, diantaranya beliau giat melaku-kan da'wah, mengajar ilmu Agama
Islam dan melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Di antara beberapa ilmu Agama Islam yang diutamakan olėh beliau
adalah mengajarkan ilmu Tauhid dan Ilmu Feqih.
Pada tahun 1927 berdiri Pondok Pesantren
yang diasuh oleh beliau sendiri di atas tanah waqaf dari KH Abdullah Faqih dan mendapat dukungan dari para dermawan dan
umat Islam di -Kudus.
Kegiatan beliau dalam melakukan dakwah dan
mengajar ilmu Agama itu tidak terbatas daerah Kabupaten Kudus saja, akah tetapi
meluas kedaerah-daerah lain antara lain sampai ke Tegal, Pekalongan, Semarang,
Gresik, Cepu, dan Blora.
Demikian halnya dalam mengadakan
pengaji'an, tidak hanya meliputi daerah Kabupaten Demak, Jepara dan Kudus akan
tetapi sampai di daerah pelosok.
Di Pondok Pesantrennya sendiri setiap
tanggal 14, bulan Hįjriyah selalu diadakan majelis nasehat, yang dinamakan
,PATBELASAN, dan ribuan muslimin dan muslimat mendatangi majelis ini. Namun
Sayangnya terhenti karena distop oleh Pemerintah Jepang.
Setiap tanggal 29 Rabiul Awwal beliau
menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW bersamaan mengadakan majelis khataman Al
Qur'an baik bin nadhar maupun bilghaib.
Selain itu untuk melayani kebutuhan para
santri yang ada di Pondok pesantrennya, secara khusus beliau mempunyai pengajian
yang antara lain :
· Khataman Tafsir Jalalain saat bulan
Ramadlan di Pondok Pesantren Bendan Kudus.
· Khataman Kitab Bidayatul Hidayah dan
Hikam saat Ramadlan di Tajug Makam Sunari Kudus.
· Membaca kitab Hadits Bukhari yang
dilakukan setiap Jum'ah fajar dan sesudah Jamaah Shubuh bertempat di Masjid
Agung Menara Kudus. Setelah beliau wafat, Kitab ini belum khatam, maka dari itu
diteruskan oleh Al-Hafidh K.H. M. Arwani sampai khatam.
9. KEGEMARANNYA
Pada
masa hidupnya beliau sangat gemar melakukan :
- Silaturrahmi, baik ditempat yang dekat
maupun yang jauh, baik terhadap yang lebih tua maupun terhadap yang lebih muda.
- Amar ma'ruf nahi munkar, terhadap
siapapun terutama terhadap hal yang nyata-nyata melanggar syara', beliau tidak
segan-segan memberikan peringatan dan tegoran.
- Ringan tenga bila diundang sekalipun jauh
asalkan undangan yang tidak melanggar syara'.
- Setiap tahunnya dan tiada udzur, beliau
pasti hadir dalam upacara Maulud Nabi yang diselenggarakan oleh Sayid Ali
Al-Habsyi Jakarta.
- Selalu memberi nasehat, baik kepada siapa
saja terutama kepada anak dan cucunya. Kalau nasehat (pidato) suara nya
lantang, keras dan tegas sesuai dengan ajaran Syari‘at Islam, sekalipun pahit
didengar tetapi manis dirasa.
10. PERJUANGANNYA
Sejak mudanya beliau senang berjuang, di
mulai dari kegiatannya mengajarkan ilmu Agama Islam, kemudian beliau memegang
amanat sebagai seorang Komisaris Sarikat Islam di Mekah Saudi Arabia.
Sesudah kembali di Kudus dari Mekah pada
tahun 1916 M beliau bergabung dengan kawan-kawannya dalam gerakan Sarikat
Islam. Tugas yang diamalkan ialah melaksanakan dakwah dan nasehat keagamaan
terutama dalam bidang Tauhid dan Feqih, di samping itu beliau ikut aktif dalam
usaha pendirian MADRASAH QUDSIYYAH, pembangunan Masjid Agung Menara sehingga
terjadi peristiwa haru-hara Kudus.
Padą tahun 1924 beliau ditemui oleh KH
Abdul Wahab Hasbullah Jombang untuk bermusyawarah tentang benteng pertahanan
Aqidah Ahlussunnah Wak Jamaah. Akhirnya beliau menyetujui gagasan K.H. A. Wahab
Hasbullah dan selanjutnya bersama-sama dengan para Ulama yang hadir di Surabaya
pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 M mendirikan Jamiyah Nahdlatul
Ulama, sehingga akhir hayatnya ditaati dan didukung Nahdlatul Ulama.
Pada zaman penjajahan Belanda beliau sering
dikenakan hukuman denda karena pidatonya yang mempertahankan kesucian Islam
serta menanamkan jiwa kenasionalan terhadap umat Islam, baik di Kudus maupun di
Jepara.
Pada zaman penjajahan Jepang pernah dituduh
menyimpan senjata api sehingga rumah dan pondok beliau dikepung oleh tentara
Dai Nippon, yang akhirnya beliau dibawa ke Markas Kempetai di Pati. Semalam
berada dalam tahanan di Markas, paginya dipanggil oleh Komandan Dai Nippon
dengan keadaan badan terbuka dari pakaian kecuali.sarung. Anehnya tidak ditanya
tentang soal senjata tetapi ditanyakan berapa jumlah istri dan anak serta
cucunya. Sesudahnya beliau disuruh pulang ke Kudus.
Pada zaman awal revolusi kemerdekaan
terutama pada masa menjelang agresi ke I beliau mengadakan gerakan ruhani dengan
membaca shalawat nariyah dan do'a surat al-Fiil. Tidak sedikit para
pemuda-pemuda kita yang tergabung dalam laskar-laskar bersenjata datang untuk
minta bekal ruhaniyah kepada beliau sebelum berangkat ke medan pertahanan di
Genuk, Alas tuwo dan lain-lain.
Oleh Bupati Kudus Bapak Subarkah pernah
beliau diminta untuk menempati Pendopo Kabupaten sebagai tempat pengajian dan
hal itu dipenuhinya sampai Bapak Bupati pindah. Majilis pengajian umum yang
masih berjalan sampai sekarang ini ialah SANGANAN di Masjid Jami' Kauman Wetan
Kudus dan PITULASAN di Masjid Agung Menara Kudus. Pondok Pesantrennya masih
berjalan untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan beliau.
11. KELUARGA ALMARHUM
Sesudah pergi Haji yang pertama beliau
menikah dengan putri KH. Abdullah Faqih Langgardalem Kudus bernama Mudasih dan
dianugerahi dua orang putra :
- H.M. Zaini mempunyai 5 orang anak.
- Masy'ari mempunyai 2 orang anak.
Pada waktu bermukim di Mekah beliau menikah
dengan Nyai Hajjah Hamdanah (janda Al-Marhum Syech Nawawi Banten) dan
dianugerahi tiga orang anak :
- a. H.M. Zuhri mempunyai 5 orang anak.
- b. H. Azizah (istri KH. Saleh Tayu) mempunyai 5 orang anak.
- c. Alawiyah, mempunyai 6 orang anak.
Sewaktu kembali ke Kudus pada tahun 1916 M
beliau dinikahkan dengan adik Khatib Khair di Kudus bernama Subandiyah tetapi
tidak dianugerahi anak hingga wafat.
Sewaktu beiiau wafat meninggalkan 3 orang
istri, 5 orang anak, 23 cucu dan 18 cicit (buyut).
12. K.H.R. ASNAWI KUDUS PULANG KE RAHMATULLAH
Hari Sabtu Kliwon tanggal 25 Jumadil Akhir
1378 H, bertepatan tanggal 26 Desember 1959 M tepatnya jam 03.00 fajar telah
pulang ke Rahmatullah Kyai Haji Raden ASNAWI, seorang Ulama besar dan sang
pendiri Jam'iyah Nahdlatul Ulama, dalam usia 98 tahun.
sumber :

Comments
Post a Comment